oleh

“Teluh” Baik Bagi Suami, Supaya Tidak Menyeleweng

SAMARINDA, BERITAKALTARA.COM.- Suami bisa saja pura-pura alim di rumah, tunduk dan penurut dengan istri pisang gebongnamun setelah di luar rumah gemar mengumbar berahi ke banyak perempuan lain. Artinya selalu merasa haus seks, tidak cukup hanya satu perempuan dalam menyalurkan kebutuhan biologis. Celakanya bermainnya dengan pelacur alias WTS yang kesehatan fisik luar dan dalamnya tidak menjamin tidak menularkan penyakit kelamin, minimal kena syphilis/GO (Gonorrhea), kencing nanah.

Mengutip data Kementerian Kesehatan RI, hingga tahun 2014 ini  penularan penyakit HIV/AIDS mematikan kian meningkat tajam. Terakhir di Indonesia  terdata penularan HIV/AIDS akibat berganti-ganti pasangan seksual sebanyak 21.770 orang – mengidap AIDS positif, lalu sebanyak 47.150 orang –  mengidap HIV positif. Itu artinya 68 ribu orang lebih sudah dinyatakan kena HIV/AIDS yang hingga kini belum ada obat penyembuhnya, terkecuali kematian yang tentu saja lebih cepat datangnya dibanding orang yang bebas HIV/AIDS.

Kenapa jadi kena HIV AIDS? Ya itu tadi gemar mengumbar berahi di banyak tempat dan dengan  banyak perempuan berprofesi WTS/Wanita Tuna Susila, PSK, pelacur berganti-ganti pasangan.

Lalu, bagaimana cara menghindarkan suami kena dan membawa tularan penyakit berbahaya itu  ke rumah dan keluarga? Apalagi di Kota Samarinda yang kini berpenduduk padat, sampai 2014 ini penduduk Samarinda  sudah mendekati 1 juta jiwa. Dari jumlah kepadatan penduduk tersebut, tidak menutupkemungkinan ada suami-suami ‘nakal’ membawa pulang penyakit kelamin ke rumah dan menularkan ke istri sahnya yang baik-baik melayani suami di rumah.

Ada data dari hasil ibu-ibu rumah tangga (IRT) di Samarinda yang memeriksakan darahnya lantaran hamil di RSU A Wahab Syahranie. Dari pemeriksaan darah itu, terdeteksi/diketahui ada 77 IRT yang darahnya positif HIV. Jumlah itu baru yang terdeteksi resmi. Yang tidak terdeteksi  di luar sana tentu berlipat-lipat jumlahnya, karena dalam aktivitas donor darah juga ada ditemukan darah pendonor yang HIV/AIDS.

Kenapa IRT yang positif? Itu sudah pasti akibat perbuatan suami yang suka menghambur berahi kepada perempuan selain istrinya.

Lalu, bagaimana supaya tidak positif tertular HIV/AIDS? Di Samarinda, persisnya di kawasan Jalan Suryanata, ada seorang perempuan mengaku  bisa menjalani  ritual ilmu yang bisa melemaskan ‘burung’ liar suami di luar rumah, artinya burung suami tidak bisa tegang bila hendak melakukan hubungan seks di sembarang tempat dan dengan sembarang perempuan yang bukan istrinya.

Kepada perempuan bersuku Banjar inilah wartawan diturunkan secara khusus menemuinya dan mewawancarai ritual  pelemasan ‘burung’ suami. Ilmu ritual itu  hampir dimiliki setiap suku bangsa masyarakat, terutama perempuan yang mengkawatirkan suaminya gemar melakukan hubungan seks di negeri ini. Bila suami yang gemar mengobral seks itu terteluh dengan  ilmu ritual ini sudah pasti tidak akan bisa menyeleweng, karena ‘burung’nya selalu saja lemas apabila hendak melakukan hubungan seks selain bukan dengan istri sendiri. Selain burungnya lemas juga tidak ada sir napsu sama sekali terhadap lawan jenis walau betapa pun lebih cantik dan seksi perempuan yang diinginkan.

Menurut pemilik ilmu itu, ritual berbau magis ini bukan saja dapat ditimpakan kepada suami sendiri, juga bisa ditimpakan kepada anak kadung berjenis kelamin lelaki dewasa yang dikuatirkan terjangkit penyakit kelamin, macam HIV/AIDS dan lainnya.

“Ritual ini bukan teluh jahat, tapi teluh baik agar suami tidak menyeleweng,” kata Albayah.

Bagaimana menjalankan ilmu ritual tersebut?  Ini berdasarkan pengakuan  perempuan bersuku Banjar yang mengaku menguasai ilmu ritual tersebut, sebut saja namanya , Albayah (37 tahun) warga Jalan P Suryanata Samarinda yang sehari-hari  buka warung klontongan (sembako).

“Tapi tolong jangan ditulis lengkap alamatku, nanti orang-orang datang ingin berguru kepadaku, ilmu ritual ini tidak bisa diturunkan pada sembarang orang, karena ilmu ini ilmu warisan nenek kami turun temurun,” minta Albayah.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Albayah di medio Selasa (11/2) tadi . Dikatakannya, bahwa ilmu ritual melemaskan burung itu, macam-macam namanya, yaitu tergantung suku dan kebiasaan suku itu menyebutnya. Kalau suku Banjar menyebutnya Olin-olin, bisa juga disebut dibluk. Tapi soal sebutan itu tidaklah terlalu penting, karena hanya sekadar sebutan nama saja, yang penting ritualnya. Karena kebetulan yang diwawancarai ini bersuku Banjarnya, maka cara perempuan suku Banjar yang kebetulan bisa diwawancara.

Pertama-tama, sebut Albayah mulai tertutur, ambil celana dalam suami  sehabis dipakai suami yang belum dicuci tepat tengah hari siang Jumat bertepatan azan salat Jumat di masjid yang suara azannya bisa terdengar. Lalu pada hari Jumat berikutnya lagi, tebang batang pisang yang tengah berbuah di jam yang sama (pisang apa saja yang penting tengah berbuah), kumudian batang pisang itu potong menjadi tiga. Setelah itu  tempatkan batang pisang itu di atas air comberan di bawah kolong rumah, atau di tempat-tempat yang dingin dan biarkan membusuk sendiri batang itu. Setelah itu pada Jumat berikut di jam yang sama pula dilubangi salah satu potongan batang pisang. Selanjutnya lesakan (tempatkan) celana dalam suami se dalam-dalamnya ke lubang batang pisang  (sampai ke bagian inti  batang pisang) sambil diirngi merapalkan  (membaca) mantra, bisa melalui hati, bisa pula dirapalkan melalui suara mulut.

Setelah celana dalam suami tadi melesak ke lubang  batang pisang, lantas biarkan batang pisang yang dingin itu di atas air coberan hingga dingin dan membusuk sendiri. Kalau rumah yang ditinggali tidak ada kolongnya hingga tidak ada comberan, tempatkan batang pisang yang sudah dilesakkan celana dalam tadi di lokasi dingin, missal di samping rumah yang tidak mudah jadi perhatian orang. Bisa pula ke bibir sumur yang juga tidak jadi lintasan umum.

Kenapa di tempat-tempat seperti itu? Karena tempat yang begitu itulah ada nuansa dingin, sehingga dingin pula pandangan suami terhadap perempuan lain selain istri.

“Semua ritual itu tentu saja dilengkapi dengan mantra bernada permohonan. Membaca mantranya juga mesti  tengah hari Jumat hingga orang-orang yang menjalankan salat Jumat usai. Tapi jangan lupa penjalan ritrual ini meski juga salat, mengingat si penjalan ritual perempuan maka salatnya cukup di rumah saja,” tutur Albayah.

Tapi sayang Albayah tidak bersedia menjelaskan apa saja mantra yang mesti dibaca oleh si penjalan ritual. Meski sudah diminta berkali-kali.  Alasannya  kuatir  mantra itu disalahgunakan oleh sembarang orang yang memiliki  niat dan tujuan dendam terhadap suami atau lain orang, karena katanya, apabila niat dan tujuannya menyalah, si penjalan ritual  bakal sering  ditimpa sial. Tetapi apabila niatnya hanya untuk menjaga suami tidak mengumbar berahi di sembarang tempat, tidak ada tulah yang membawa sial. Malah bakal sangat manjur.

“Maaf, untuk mantra ritual pelemasan burung ini tidak bisa diungkap sembarangan. Mantranya itu merupakan warisan kami turun temurun yang mesti kami jaga sebaik-baiknya. Mantra itu di kalangan Suku kami, biasa kami sebut bacaan rahasia olin-olin,” kata Albayah hari itu yang kini dikarunai 4 putra putri dengan suami satu-satunya.

Albayah juga menyebutkan, Mantra Ritual itu akan punah dengan sendirinya apa bila suami istri bercerai. # kony fahran

Print Friendly

Comments

comments

Komentar

Tinggalkan Balasan ke lies Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

1 comment

News Feed