oleh

Proyek Rumah Layak Pemprov Kaltim Mengecewakan Warga Paser


rumah kadi di jone paser webPASER, BERITAKALTARA.COM- Pengaduan masyarakat penerima bantuan terkait pembangunan rumah layak huni (RLH) program Pemprov Kaltim tahun anggaran 2013 seakan tidak ada habisnya. Beberapa orang warga Desa Jone Kabupaten Paser yang diketahui sebagai warga penerima bantuan mengaku merasa kecewa kepada pihak kontraktor lantaran rumah mereka belum juga rampung.

Belum rampungnya pekerjaan kontraktor bukan terkendala tenaga kerja. Warga di desa itu mengaku berani memborong pekerjaan rumah mereka sendiri.

Kendati sudah memborong atau mengerjakan sendiri, Kadir salah satu warga Desa Jone tetap saja mengalami kesulitan untuk merampungkan rumah miliknya. Hal ini karena bahan material bangunan yang disiapkan pihak kontraktor sering terlambat datang.

Menurut cerita Kadir, bantuan rumah layak huni miliknya itu ia kerjakan sendiri dengan upah tukang yang dijanjikan pihak kontraktor senilai Rp8 juta rupiah.

Selama mengerjakan rumah tersebut Kadir menilai kontraktor diduga berbuat curang dengan memberikan bahan material kayu untuk rangka atap yang terkesan kayu sembarang atau kayu tak berkualitas.

Padahal sepengetahuannya di dalam rencana anggaran biaya (RAB) pengerjaan rumah layak huni seharusnya menggunakan kayu meranti.

“Saya hapal betul semua jenis kayu, ini bukan kayu meranti tapi kayu dari pohon petai,” ungkap Kadir kepada BERITAKALTARA.COM, medio Desember (13/12/13) .

Lanjut ditambahkan Kadir bahwa rumah bantuan Pemerintah itu belum bisa ia tempati. Alasannya karena Water Closed (WC) beserta septic tank atau lubang pembuangan tinja belum terpasang. Selain itu lantai dan dinding di rumah itu juga belum difinising. “Gimana rumah ini mau selesai dan ditempati kalau bahan materialnya saja belum ada,” ujar Kadir mengeluhkan.

 

Selain Kadir, ada juga warga Desa Jone mengeluhkan hal yang sama. Seperti Jamhuri dan Nonit. Kepada BERITAKALTARA.COM Jamhuri mengaku juga memborong sendiri rumah bantuan pemerintah itu. Lantaran bahan material semen sering telat datang sehingga rumahnya pun belum bisa ia selesaikan.

Ironisnya Jamhuri mengaku pernah ia terpaksa harus mengeluarkan uang sendiri untuk membeli beberapa sak semen. “Yah mau bagaimana lagi karena pihak kontraktor belum ada ngasih semen terpaksa kita harus beli sendiri,”ungkap Jamhuri.

 

Lantas bagaimana dengan Nonit. Ia pun bernasib sama. Wanita paruh baya yang telah menjanda karena sang suami telah tiada ini mengaku takut menempati rumah bantuan Pemerintah itu lantaran beton bagian belakang rumahnya sudah nampak miring dan takut nantinya ambruk. Nonit pun menuding kontraktor yang mengerjakan sepertinya asal-asalan.

 

Saat ini Nonit terpaksa harus mendirikan pondokan didekat rumahnya untuk sekedar tempat tinggal sementara. Rumah sebelumnya yang ia tempati bersama kedua anaknya sudah terlanjur dibongkar dan kini pengerjaannya belum juga rampung. “Terus terang sekalipun rumah ini sudah selesai, saya tetap tidak berani menempatinya karena takut ambruk,” terang Nonit merasa kuatir.**ibnu

Print Friendly

Comments

comments

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed