oleh

Proyek Bermasalah di Malinau, Kontraktor Orang Dekat Bupati?

lahan pertanian malinau-1MALINAU, BERITAKALTARA.COM – Tudingan adanya dugaan kerjasama antara pengusaha dengan penguasa dalam proyek optimalisasi lahan pertanian senilai Rp3,6 miliar di Desa Pulau Betung Malinau Hulu, seperti diutarakan Badarudin, Ketua Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) setempat, cukup mendasar.

“Ini kan jelas, kenapa pemerintah menerima proyek yang tidak selesai, sedangkan masyarakat petani justru menolak karena lahan itu tidak bisa dimanfaatkan sebagaimana layaknya,” kata Badarudin.

Saat dikonfirmasi kepada Kepala Dinas Pertanian, Peternakan dan Perikanan (Disperternakan) Kabupaten Malinau, Giram Barshobedie, tentang kontraktornya yang merupakan orang dekat bupati, ia mengaku tidak tahu.

“Saya tidak tahu. Proyek itu sudah ada sebelum saya menjabat. Tapi nanti saya cari tahu dulu,” jawab Giram ketika dihubungi via telepon.

Proyek optimalisasi lahan pertanian itu luasnya 100 hektar dan ada di dua lokasi. Tapi, setelah menghabiskan anggaran Rp3,6 miliar dari APBD Kabupaten Malinau tahun anggaran 2012, pada kedua lahan tersebut hanya terlihat alang-alang. Sedangan distribusi air untuk lahan pertanian warga tidak ada.

Kontraktor yang mengerjaka lahan pertanian itu PT Makmur Jaya Prestasi. Namun beberapa keterangan yang diperoleh media ini menyebutkan kalau perusahaan itu hanya dipinjam oleh seorang berinitial Iyon. Nah, ada yang menghubungkan bahwa Iyon ini orang dekat bupati.

Giram Barshobedie berjanji akan meninjau ulang proyek yang disebut-sebut bermasalah itu. Apalagi, program pertanian di Malinau adalah salah satu bidang andalan untuk meningkatkan produksi masyarakat, sekaligus indikator perkembangan ekonomi lokal.

Kendati Giram mengaku kurang mengetahui proyek bermasalah tersebut, tapi diakuinya sudah mendengarnya. “Kalau tidak salah dirutnya bernama Yon. Dia biasa disapa dengan panggilan Pak Yon,” ujar Giram membenarkan.

Ia membenarkan, proyek optimalisasi lahan pertanian itu sudah selesai. Hanya saja belakangan ada kelompok tani menolak saat hendak diserahterimakan. Mereka menganggap proyek tersebut tidak sesuai dan tidak puas dengan hasil yang dikerjakan pihak kontraktor. “Memang sih kondisi tanah disana berawa-rawa sehingga menyulitkan pihak kontraktor dalam pengerjaannya,” ujarnya.

Giram juga memaklumi adanya keluhan kelompok tani yang mempermasalahkan proyek tersebut. Ia berjanji akan mengupayakan mencari solusi untuk dikondisikan pada tahun anggaran berikutnya.#ibnu

 

Print Friendly

Comments

comments

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed