by

Mengenal Tradisi Akad Nikah Suku Dayak Punan Borneo

tari gong

TANJUNG SELOR, BERITAKALTARA.COM – Tradisi atau adat meminang suku dayak Punan dipulau Borneo hampir sama saja dengan adat istiadat suku-suku lainnya yang ada di Nusantara, yaitu didahului dari pihak laki-laki untuk meminta persetujuan kepada pihak perempuan.

Hanya yang membedakannya dari segi mahar akad nikah atau dikalangan suku Punan disebut Purut. Makin tinggi kasta atau banyaknya jumlah kerabat si wanita maka makin banyak Purut atau benda berharga yang diberikan oleh si Pria calon mempelai tersebut.

“Biasanya selain Purut berbagai jenis ukuran gong hingga guci antik yang bernilai mulai dari puluhan juta hingga ratusan juta rupiah, keluarga si perempuan juga masih meminta lagi barang-barang berharga lainnya. Seperti perhiasan emas, mesin jahit, mesin speed boat, sampai mesin ces atau di Pulau Borneo lebih dikenal dengan sebutan mesin ketinting, “ Ujar M Deli salah satu mantan PNS Pemkab Bulungan yang berjasa memukimkan suku Dayak Punan dari rimba Borneo pada tahun 1970 an silam.

Untuk mahar atau Purut tersebut tidak hanya berhenti sampai pada pelaksanaan meminang saja, melainkan setiap pasangan pengantin tersebut melahirkan keturunan biasanya keluarga perempuan masih meminta lagi. Hanya saja nilainya tidak seperti pada saat sipria melamar calon pengantinnya.

Kendati demikian, bukan berarti pihak laki-laki tidak mendapat balasan pemberian barang-barang berharga yang diberikan kepada pihak perempuan. Melainkan mereka (Pria) juga berhak meminta dari pihak keluarga isterinya, atau dalam istilah suku Punan Borneo disebut Sulang atau membalas pemberian mahar yang diberikan.

Biasanya untuk acara akad nikah juga dilakukan seperti biasa, setelah dilaksanakan secara adat kedua mempelai dinikahkan lagi di Gereja.  Karena sejak dimukimkan oleh pemerintah kebanyakan suku dayak Punan Borneo ini memeluk agara Kristen.

“Setelah proses acara selesai biasanya pada malam hari diselenggarakan pesta yaitu acara makan-makan dan minum minuman keras yang mereka buat sendiri. Dengan cara dipermentasi didalam guci-guci yang disebut dikalangan suku Punan dengan minuman Pengasi, “ kata M Deli.

Biasanya, pada acara tersebut juga kerap diselingi dengan tari-tarian adat seperti tari gong dan tarian busak bakui. Hanya saja jenis tarian tersebut biasanya didominasi oleh kaum pria saja, sedangkan kaum perempuan lebih senang menjadi penonton. # sahriansyah.

Print Friendly

Comments

comments

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed