oleh

Jumat Kelabu Abdul Azis Kepala Dinas PU Nunukan

abdul-azisNUNUKAN, BERITAKALTARA.COM,—Mantan Kepala Dinas PU Nunukan Abdul Azis Muhammadiyah akhirnya masuk sel tahanan, dengan tuduhan menerima gratifikasi dari pengusaha Brunei Darussalam sebesar Rp1 miliar.

Sudah lebih sepekan Abdul Azis menghuni sel di Lapas Tanjung Harapan Nunukan Selatan. Sejak ditangkap pada Jumat (16/11) lalu, mantan Kepala Dinas Pekerjaan Umum yang sekarang menjabat Kepala Dinas Pertambangan ini nampak pasrah.
Buat Azis, masuk sel penjara kali ini seperti bernostalgia saja. Sekitar 6 tahun silam – tepatnya hari Jumat juga (30/1), ia ditangkap sebagai pengguna narkoba. Waktu itu jabatannya sebagai Kepala Dinas PU juga.
Oleh pengadilan Azis dihukum penjara. Namun anehnya ia tidak dipecat, malah begitu keluar ‘sekolah’ di Lapas, Pemkab Nunukan yang waktu itu dikendalikan Bupati Abdul Hafid Achmad justru mengangkatnya sebagai Kepala Dinas Pendidikan.
Karirnya terus cemerlang di zaman Bupati Basri pun ia tetap aman sebagai Kepala Dinas Pertambangan.
Penangkapan Azis kali ini dilakukan usai shalat Jumat. Mobil dari Kejaksaan Negeri Nunukan KT 7169 F langsung menjemputnya, tanpa perlawanan.
Kasus yang menimpa Azis, terkait proyek tahun 2006 silam disaat ia sebagai Kepala Dinas PU Nunukan. Menurut Rudi SH, Kasi Pidana Khusus (Pidsus) kasus yang menimpa Azis terjadi 7 tahun silam, di mana dalam penyidikan oleh Polda Kaltim diketahui ada bukti dugaan suap oleh pengusaha asal Brunei Darussalam.
Pada saat Abdul Azis menaiki dan masuk mobil tahanan kejaksaan ia sempat tersenyum kepada wartawan seperti tidak ada masalah. “Allah subahanawata lah yang mengetahui apa yang saya lakukan. Belum tentu dugaan orang terhadap saya itu benar. Kita akan tunggu dipersidangan pengadilan,” kata Azis kepada wartawan yang saat itu didampingi pengacara Sahril Mallongi SH.
Menurut jaksa Rudi, penahanan tersangka bukan karena kuatir melarikan diri, namun untuk memudahkan pemeriksaan. Penahanan selama 20 hari dan bisa diperpanjang.
Tersangka Azis diduga menerima suap atau gratifikasi sebesar Rp 1 miliar dari seorang pengusaha Brunei Darussalam bernama H Ibrahinm H Awang Damit.
Azis pada saat itu sebagai Kepala Dinas PU atau Kuasa Pengguna Anggaran meluncurkan proyek pembangunan jalan lintas batas negara mulai dari Long Bawan-Long Midang ke Long Sumamu di Kecamtan Krayan Induk Nunukan.
Uang tersebut ditransfer H Ibrahim H Awang Damid kepada rekening pribadi Abdul Azis Muhammadiyah. Sesuai bukti transfer tertera pertama pada tanggal 22 Pebruari 2006 sebesar Rp 500 juta. Kedua pada 29 September 2006 sean ketiga pada 23 Nopember 2006 sebesar Rp. 300 juta.
Perusahaan yang digunakan H Awang Damit diketahui milik Amalia Grup atau dengan bendera CV Amalia, dengan kontrak nilai proyek sebesar Rp 4.378.150.000.000. Namun walaupun perusahaannya meminjam, tanggungjawab tetap pada pelaksana proyek.
Azis Muhammadiyah dijerat pasal berlapis, yakni pertama pasal 12 (B0 atau pasal 2 UU RI No: 31 tahun 1999 sebagaimana di Ubah dengan UU No : 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak pidana Korupsi. Kedua ia dijerat pasal 3 ayat (10 UU RI No 25 Tahun 2003 tentang Perubahan atas UU No: 15 tahun 2002 Tentang Tindak pidana pencucian uang dengan Ancaman kurungan penjara paling singkat 5 tahun atau paling lama 15 tahun. (yusuf palimbongan)

Print Friendly

Comments

comments

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

1 comment

News Feed