oleh

Mendunia Akibat Konservasi

Yansen TPMALINAU, BERITAKALTARA.COM,—Meski secara geografis termasuk berada di daerah terpencil, Kabupaten Malinau punya ‘jualan’ yang membuatnya diperhitungkan sebagai kawasan konservasi berkelas internasional.

Membangun tanpa merusak lingkungan. Itulah hakikat dari Gerdema (Gerakan Desa Membangun) yang dicanangkan pemerintahan yang  dipimpin bupati Yansen TP.  Setelah sepakat menjadikan daerah itu sebagai kabupaten konservasi, tercatat dua kali sudah meraih penghargaan bertaraf Internasional dan Nasional, yakni Kehati Award dan Kalpataru dari Presiden RI.

Malinau punya Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) seluas 1.360.500 hektar yang penetapannya oleh Pemerintah RI sejak tahun 1996. Kemudian kawasan ini juga telah disepakati sebagai jantung Pulau Kalimantan, yang dikenal dengan sebutan Heart of Borneo (HoB). Ini adalah sebutan untuk kawasan konservasi tiga negara; Indonesia, Brunai Darussalam dan Malaysia.

“Kami sudah menerima bahwa ini adalah yang terbaik. Bahwa Malinau telah memberi arti dan manfaat kepada bumi, dengan menjadikan sebagai kawasan konservasi. Karena status konservasi itu maka seluruh gerak pembangunan yang diprogram dalam Gerdema, berafiliasi dengan konsep konservasi,” kata Yansen, suatu hari.

Memang, pada akhirnya bupati Yansen harus mampu menahan diri dan godaan dari pengusaha-pengusaha yang ingin menjadikan lahan hutan di Malinau digarap sebagai lahan perkebunan, kehutanan atau pertambangan.

Satu satunya yang bisa dikelola menjadi barang komersial di kawasan hutan Malinau, yakni produk kerajinan hasil hutan terbatas. Artinya boleh memanfaatkan kawasan untuk sektor komersial, tetapi tidak merusak kawasan hutan. Itulah konsep pembangunan Malinau yang mengedepankan konservasi hutan dan lingkungan.

Maka tidak salah pula jika seluruh produk kerajinan hasil hutan yang tidak merusak kawasan menjadi incaran bupati Yansen untuk dijadikan oleh-oleh atau ikon kerajinan setiap kali berkunjung ke pedalaman terpencil. Hal itu terlihat misalnya saat mendarat di Kayan Selatan setelah melintasi “jantung Borneo” selama kurang lebih satu jam dari bandara RA Bessing Malinau menuju bandara Long Nawang di Kayan Hulu.

Masyarakat sekitar hutan semakin pandai memproduksi hasil hutan menjadi aneka barang keperluaan sehari-hari maupun cinderamata. “Seluruhnya kita harapkan bisa mencintai produk kerajinan hasil hutan yang tidak merusak kawasan hutan,” ujar Yansen, bangga.

Saat rombongan Bupati dan Forum Komunikasi Daerah tiba di Kecamatan Kayan Selatan, semua yang melihat kerajinan orisinil warga lokal memujinya. Mereka juga dengan senang hati berbelanja beberapa anyaman rotan buah karya beberapa orang ibu-ibu anggota PKK setempat.

Kerajinan tangan yang dipajang sebagai bagian dari interior design bandara tersebut, menarik minat Bupati untuk rehat sejenak sambil menikmati teh hangat yang merupakan produk olahan lokal.

Saya kepingin, produk ini tidak hanya masyarakat Ampung yang menikmati, namun suatu hari nanti, daerah Jawa dan Sumatera, bahkan Indonesia secara keseluruhan juga akan mengenal dan merasakan nikmatnya teh Long Ampung serta uniknya kerajinan tangan dari rotan yang dihasilkan oleh masyarakat Kecamatan Kayan Selatan.

“Jangan pernah takut untuk bermimpi, jika kita berani bermimpi, maka kita pun ada semangat untuk mewujudkan impian tersebut,” ujar Yansen.  Ia pun mengatakan setiap orang Malinau boleh saja bermimpi bahwa produk lokal akan dinikmati oleh masyarakat luar dan terkenal bahkan hingga ke mancanegara.

“Karena saya yakin suatu saat mimpi ini benar-benar berwujud nyata,” demikian ungkapan Yansen dihadapan warga pedalaman saat berbincang dengan warga di Kayan Selatan.

Tujuan kunjungan bupati dan rombongan sebenarnya adalah untuk keperluan peresmian oembangunan tower telekomunikasi yang menjadi produk prioritas untuk membangun komunikasi warga di pedalaman dengan dunia luar.

Saat itu, antusiasme masyarakat perbatasan, terutama masyarakat di Kecamatan Kayan Selatan, sangat tinggi untuk hadir dan menyaksikan peletakan dan pembangunan tower telekomunikasi tersebut. Mereka beramai-ramai berjalan kaki menuju bukit yang terletak di sebelah utara bandara Long Ampung.

Laporan: Fiteriyadi

Print Friendly

Comments

comments

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed