Search
Wednesday 13 December 2017
  • :
  • :

Beli Pesawat N-219, Pemprov Usul Rp 40 M di APBD 2018

Gubernur Kaltara H Irianto Lambrie saat hadir pada peresmian pesawat N-219 Nurtanio di Bandara Halim Perdanakusuma, belum lama ini.

TANJUNG SELOR, beritakaltara.com – Rencana membeli pesawat N-219 Nurtanio tidak hanya sekadar wacana. Gubernur Kaltara Dr H Irianto Lambrie telah memerintahkan Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) untuk memasukkan anggaran minimal Rp 40 miliar di APBD 2018.

“Saya sudah perintahkan TAPD. Minimal disediakan dulu tahap pertama Rp 40 miliar. Hari ini (kemarin) dibahas dengan dewan (DPRD),” kata Irianto usai memimpin rapat staf bersama jajaran organisasi perangkat daerah (OPD), Rabu (29/11).

Dikatakan, jika harga satu unit pesawat buatan PT Dirgantara Indonesia (DI) dan Lembaga Antarariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) itu kurang lebih Rp 80 miliar. Artinya, Pemprov akan membayar separuh dari harga total N-219 pada 2018.

“Separuh dulu, karena belum juga satu tahun bisa selesai (pembuatan pesawat). Kalau misalnya tahun 2018 dipesan, tahun depannya baru jadi pesawatnya,” ujarnya.

Gubernur menegaskan skema pembelian pesawat yang dilakukan tidak sampai membebani APBD. Termasuk saat sudah terealisasi nanti. Baik dari sisi operasional, pemeliharaan, maupun gaji pilot. Semua bisa dibayar tanpa menggunakan APBD. Yaitu lewat pendapatan yang diperoleh.

Untuk itu, Pemprov masih mempertimbangkan secara matang apakah perlu bekerja sama dengan maskapai profesional atau dioperatori oleh perusahaan perseroan daerah seperti badan usaha milik daerah (BUMD).

“Kita lihat nanti, apakah kita menggandeng MAF (Mission Aviation Fellowship). Kita lihat mana yang paling memungkinkan. Atau kalau pesawatnya cukup 2 atau 3 unit dibeli secara leasing (sewa), bisa saja BUMD yang mengelola. Itu salah satu opsi,” ulasnya.

Hanya saja, menurutnya, opsi yang paling mungkin ditempuh adalah bekerja sama dengan maskapai komersil dan difasilitasi oleh PT DI sendiri. “Itu skema yang paling baik sebenarnya, karena bank siap membiayai,” ujarnya.

Irianto menambahkan, pesawat Nurtanio N-219 sangat cocok dengan kondisi Kaltara. Meski dengan bodi yang besar, pesawat N-219 bisa lepas landas dan mendarat di lapangan terbang di wilayah pedalaman dan perbatasan. “Bisa, karena perlu landasan 400 meter saja. Di tanah liat pun bisa mendarat dan take off, asal keras. Jangan becek,” sebutnya.

Sebelumnya, dengan tujuan utama mengatasi masalah keterisoliran wilayah perbatasan dan pedalaman di provinsi, Gubernur mencetuskan sebuah gagasan untuk membeli pesawat produksi anak bangsa, N-219 yang dirancang dan dirakit oleh PT DI bekerjasama dengan LAPAN.

Gubernur menargetkan, minimal 1 unit pesawat multi fungsi bermesin dua yang memang dirancang untuk beroperasi di daerah terpencil itu, sudah menjelajahi perbatasan dan pedalaman Kaltara pada 2019.

Dikatakan, ada tiga alasan mendasar yang mendorong dirinya menggagas pembelian pesawat N-219 itu. Alasan pertama, wilayah di Kaltara, banyak yang terisolir dari segi transportasi. Dan, rata-rata hanya dapat dijangkau menggunakan transportasi udara. “Kaltara ini, provinsi dengan perbatasan darat cukup panjang, sekitar 1.098 kilometer. Untuk bisa menjangkau wilayah itu dengan cepat, hanya dapat dilakukan lewat pesawat,” kata Gubernur.

Alasan kedua, Pemprov Kaltara berkewajiban untuk membantu seluruh masyarakat. Terutama, masyarakat di wilayah pedalaman dan perbatasan, yang selama ini disubsidi penggunaan transportasi udaranya. Baik, berbentuk subsidi ongkos angkut (SOA) penumpang maupun barang.

“Kaltara sangat fokus untuk membantu masyarakat yang mengalami kesulitan atau sakit di wilayah perbatasan dan pedalaman. Ditambah lagi, saya selaku Gubernur, memang sejak lama memiliki rencana dan wacana untuk penyediaan ambulans udara,” jelasnya.

Sedang alasan ketiga, Irianto ingin menunjukkan kepada negara tetangga Indonesia di wilayah Kaltara, khususnya Malaysia bahwa putra-putri Indonesia adalah bangsa berdaulat yang mampu merancang dan membangun sebuah teknologi penerbangan yang berkualitas. “Tak semua bangsa di dunia ini, memiliki kapasitas untuk membangun atau membuat pesawat. Paling tidak, dari negara tetangga kita di level ASEAN, belum ada yang bisa membuat pesawat sebaik ini,” urainya. (humas)

Print Friendly

Comments

comments




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *