Search
Wednesday 13 December 2017
  • :
  • :

Jalan Nasional Longsor, Warga di Perbatasan Malaysia Terisolir

Kondisi jalan yang terputus.

MALINAU, beritakaltara.com- Akses jalan nasional yang menghubungkan wilayah Kecamatan Mentarang Hulu, Kabupaten Malinau dengan Long Bawan, Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, putus total akibat longsor. Warga yang tinggal di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia, kembali terisolir.

Inding (60) tokoh adat Dayak Punan mengungkapkan, titik longsor berada di  Melasu, daerah yang berada di sekitar kawasan Desa Semamu Kecamatan Mentarang Hulu. Dikatakannya, longsor yang terjadi sangat parah yakni sepanjang 1 KM ke arah Jembatan Melasu yang menyambungkan jalan poros perbatasan  di atas Sungai Mentarang.

Akibat longsor besar ini transportasi dari Ibu Kota Malinau menuju desa-desa di Kecamatan Mentarang Hulu dan Long Bawan (Krayan) terputus total. Tak bisa kendaraan apa pun lewat,termasuk sepeda motor,” ungkapnya.

Dijelaskannya, longsor kerap terjadi dikedua wilayah tersebut hingga mengakibatkan jalan nasional yang menghubungkan sejumlah desa di Krayan dan desa-desa yang ada di Mentarang Huli dengan Ibu Kota Kabupaten Malinau terputus.

 “Yang terjadi sekarang cukup parah, pada ruas jalan sepanjang 1 KM badan jalan tertimbun longsor dari tebing di sekitarnya dan sebagian lagi badan jalan juga longsor hingga putus.Sudah 1 bulan longsor ini memutus jalan.Kendaraan besar pun praktis tidak bisa lewat.Ada warga dari Long Bawan coba-coba lewat bawa motor,tidak jauh mereka coba ternyata kembali lagi.Sejumlah kendaraan proyek yang hendak melintas pun tertahan di sekitar lokasi longsor,” jelasnya.

Sementara itu Adun warga Long Bawan mengungkapkan,jalan Malinau-Long Bawan merupakan salah satu ruas jalan nasional yang dibangun untuk membuka keterisolasian ribuan masyarakat yang tinggal disejumlah desa di Kecamatan Mentarang Hulu. Termasuk masyarakat dari Desa Long Bawan Krayan. Terbukanya jalan poros tersebut telah mempermudah akses masyarakat untuk berhubungan dengan ibu kota dalam memenuhi berbagai keperluan, terutama untuk mempermudah mereka dalam memenuhi berbagai kebutuhan yang bersumber dari ibu kota.

“Sejak terbukanya akses jalan pada 3 tahun lalu, warga tidak bergantung pada transportasi sungai yang biayanya jauh lebih mahal dengan perahu, warga memerlukan biaya sedikitnya Rp500 ribu, untuk ongkos berperahu. Setelah jalan terbuka cukup pakai motor dengan modal bensin 10-15 liter,” ungkapnya.

Ia menegaskan,warga perbatasan berharap pemerintah pusat turun tangan mengatasi kondisi yang menyulitkan tersebut. Untuk jangka pendek yang perlu segera dilakukan adalah memperbaiki badan jalan yang amblas dan tertimbun tanah longsor agar lalu lintas kembali normal. Untuk jangka panjang warga berharap pemerintah pusat terus membangun jalan tersebut hingga kondisinya aman dan nyaman dilalui. Yang juga sangat diharapkan warga di sana adalah pemeliharaan jalan tersebut secara berkelanjutan.

“Itu juga kami harapkan. Jalan ini dipelihara sehingga kalau ada keruskan-kerusakan segera teratasi. Kalau ada longsor langsung ditangani. Kami tak banyak minta hanya bangun jalan ini sebaik-baiknya. Mudah-mudahan Pak Jokowi tahu dan mendengar permintaan kami ini,” pungkasnya. #VR

Print Friendly

Comments

comments




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *