Search
Wednesday 13 December 2017
  • :
  • :

Cerita Korban Speedboat Terbalik di Tarakan, KSOP Harus Bertangungjawab

NUNUKAN, BERITAKALTARA.COM– Terbaliknya speedboat Rejeki Baru Kharisma di Kota Tarakan Kalimantan Utara, menurut Anggota DPRD Kota Tarakan, murni karena over kapasitas muatan orang maupun barang.

Ketua Fraksi Partai Gerinda DPRD Kota Tarakan Rudi Hartono mengatakan, tidak ada hal yang dikhawatirkan dari laut ketika kecelakaan maut tersebut terjadi. Saat speedboat Rejeki Baru Kharisma terbalik, cuaca laut di Kota Tarakan sedang tenang tidak berombak dan tidak berangin.

Bahkan informasi yang menyatakan speedboat terbalik karena menghantam kayu tidak benar adanya.

“ Yang jelas itu over kapasitas. Tidak ada gelombang, tidak ada menabrak batang, situasi laut normal,” ujarnya, Sabtu (30/07/2017).

Sebagai saksi hidup dalam kejadiaan kecelakaan naas tersebut, Rudi Hartono mengaku melalui partainya, pihaknya akan menuntut aparat Kepolisian mengusut intansi KSOP.

Menurutnya upaya pihak kepolisian dengan menetapkan motoris sebagai tersangka seharusnya juga dibarengi dengan pengusutan pihak KSOP yang telah lalai melaksanakan tuganya melakukan pengawasan terhadap keselamatan pelayaran di Pelabuhan SDF Tengkayu Tarakan.

“Kami akan menuntut secara hukum kepada pihak instansi KSOP, karena ada kesalahan SOP dalam hal ini,” pungasnya.

Menurut politisi Gerindra tersebut kecelakaan terjadi karena speedboat mengalami over kapasitas baik orang maupun barang. Saking kelebihan kapasitas, ada sekitar 10 penumpang duduk di atas speedboat karena setiap menit ada tambahan penumpang.

Ia melihat, meski kapasitas speed telah penuh, ABK kapal masih tetap menambah penumpang. Bahkan saat tali speedboat dilepas ABK kembali menambah 3 penumpang.

“Ada satu ibu yang jadi korban awalnya tidak mendapat tempat, sehingga salah satu naik ke atas. Diatas ada sekitar 10 orang,” cerita dia.

Ketika over kapasitas, sayangnya tidak ada pemeriksaan oleh pihak KSOP terkait kelebihan penumpang dan muatan speedboat. Akibat kelebihan penumpang dan barang, speedboat yang baru 5 menit meninggalkan pelabuhan SDF Tarakan oleng ke arah kanan karena barang yang ada di atas speedboat bergeser ke arah kanan.

Untuk mengimbangi speedboat yang oleng, motoris berusaha membanting stir ke kiri agar posisi speedboat menjadi stabil. Namun sayang upaya sang motoris tersebut membuat posisi barang di atas kapal kembali bergeser kearah kiri yang membuat posisi kapal kembali oleng ke kiri yang membuat speedboat terbalik dan tenggelam.

“Posisi spedboat itu berputar 180 derajat karena motoris menekan gas untuk menstabilkan speedboat sebelum terbalik,” imbuhnya.

Saat speedboat terbalik, menurut Rudi Hartono, susasana di dalam speedboat banyak yang histeris bahkan menyebut asma Allah dan takbir. Ketika speedboat telah terbalik dan air mulai masuk ke dalam speedboat, penumpang saling tarik menarik berebutan mencari pintu keluar.

Ketua DPC Partai Gerindra Kota Tarakan yang duduk di tengah speedboat tersebut berupaya memukul kaca fiber yang berada di samping kapal, sayangnya upaya tersebut tidak berhasil karena bahan fiber tidak langsung pecah ketika dipukul.

Beruntung dia berhasil mencapai pintu keluar dari bagian belakang speedboat, bahkan memberikan bantuan kepada seorang penumpang tua yang hampir tenggelam karena tidak bisa berenang.

“Saya sempat tenggelam bersama bapak yang minta tolong karena dia mengaku tidak bisa berenang. Saat berhasil timbul saya minta bapak itu tidak meninggalkan bangkai kapal,” ucapnya.
Tim SAR gabungan Basarnas Kota Tarakan Kalimantan Utara masih terus melakukan upaya pencarian terhadap 2 korban kecelakan tenggelamyan speedboat Rejeki Baru Kharisma.

Kepala Basarnas Kalimantan Timur dan Utara Mujiono melalui Kasie Operasi Octavianto mengatakan, hingga hari ke 5 masih ada 2 penumpang atas nama Arif dan Mariyanti yang belum diketahui nasibnya. Sementara 2 korban yang ditemukan meninggal atas nama Evi Damayanti dan Mariyanto tidak masuk dalam manifest.

“Jumlah korban yang tercatat di crisis center saat ini ada 57 korban. Ada tambahan 2 korban yang dilaporkan di crisis center karena keluarga belum melapor dan tidak masuk daftar penumpang”. #dhi

Print Friendly

Comments

comments




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *