Search
Monday 23 October 2017
  • :
  • :

Ini Brigitte Trogneux, Nenek 64 Tahun yang Jadi Istri Presiden Prancis Terpilih

PARIS, beritakaltara.com- Di balik kisah sukses Emmanuel Macron, Presiden Prancis terpilih, media-media ramai memberitakan Brigitte Trogneux. Dia adalah calon Ibu Negara yang usianya lebih tua 24 tahun dari Sang Presiden terpilih.

Kisah cinta Macron-Trogneux tidak lazim karena dilakukan oleh seorang murid dengan gurunya. Trogneux Tadinya seorang guru sekolah menengah dan Macron adalah siswanya.

Seperti dilansir CNN, Senin (8/5/2017), kisah cinta keduanya dimulai saat Macron yang saat itu berusia 15 tahun, ikut dalam drama sekolah yang diarahkan oleh Trogneux, yang berusia 24 tahun lebih tua darinya. Trogenux saat itu berusia 39 tahun, telah menikah dan memiliki tiga anak.

Pada usia 17 tahun, Macron menyatakan cintanya pada Trogneux. Hubungan keduanya diwarnai berbagai halangan, mulai dari tidak direstui orangtua Macron hingga digunjingkan karena perbedaan usia yang jauh.

Trogneux yang tadinya hanya guru sekolah Macron, beranjak menjadi kekasih dan kemudian menjadi istrinya. Dalam berbagai fase kehidupan yang mereka jalani bersama, Trogneux menjadi mentor dan inspirasi dalam kehidupan Macron.

“Tanpa dia (Trogneux), saya tidak akan menjadi saya yang sekarang,” ucap Macron saat merayakan kemenangannya dalam pilpres putaran pertama 23 April. Macron mencetak sejarah sebagai Presiden Prancis termuda setelah memenangi pilpres putaran kedua pada 7 Mei waktu setempat, dalam usia 39 tahun. Dia meraup 66,06 persen suara jauh mengungguli rivalnya, Marine Le Pen, yang hanya meraup 34 persen suara.

Trogneux, yang kini berusia 64 tahun dan memiliki 7 cucu, akan menjadi Ibu Negara Prancis selanjutnya. Namun selama ini, istri para pemimpin Prancis memegang peranan yang tidak terlalu kentara di publik. Tidak demikian halnya dengan Trogenux. Macron sebelumnya menyatakan, jika dirinya terpilih menjadi Presiden Prancis, kemungkinan besar dia akan memberikan peran resmi bagi istrinya dalam pemerintahannya.

Trogneux lahir dari keluarga borjuis pembuat cokelat. Trogneux memiliki kampung halaman yang sama dengan Macron, yakni Amiens, di Prancis bagian utara. Sebelum bertemu Macron, Trogneux menjalani kehidupan konvensional seperti wanita kebanyakan. Dia memiliki karier stabil sebagai guru sastra Pancis dan guru drama. Dia menikahi seorang bankir bernama Andre Louis Auziere dan memiliki tiga anak.

Namun pada tahun 2006, Trogneux bercerai dengan suaminya dan menikah dengan Macron setahun kemudian. Dia kemudian pindah ke Paris dan tetap bekerja sebagai guru. Tahun 2015, Trogneux berhenti bekerja dan fokus pada suaminya, yang saat itu menjabat Menteri Perekonomian.

Dalam film dokumenter oleh France3 TV, Trogneux digambarkan sebagai ‘pelatih’ Macron. Dalam salah satu adegan, Trogneux terlihat memandu Macron saat berlatih pidato. Trogneux tidak ragu menyela Macron untuk memintanya sedikit menambah volume suaranya.

Hubungan ketiga anak Trogenux yang sudah dewasa dengan Macron, ayah tiri mereka, sangat baik. Anak-anak Trogneux bahkan ikut berkampanye untuk Macron. Faktanya, Macron meminta izin ketiga anak Trogneux saat akan menikahi ibu mereka. Hal itu memberi kesan tersendiri bagi anak-anak-anak Trogneux.

Macron dan Trogneux bertekad memastikan hubungan mereka tidak dicap sebagai skandal. Keduanya berusaha terbuka pada publik soal hubungan mereka. Dalam salah satu ulasan dengan majalah Prancis, keduanya menyebut pernikahan mereka sebagai ‘perayaan keluarga modern yang tidak biasa tapi penuh kasih sayang’.

“Kami tidak memiliki keluarga klasik, tidak bisa disangkal. Tapi apakah kami memiliki lebih sedikit kasih sayang dalam keluarga ini? Saya rasa tidak demikian. Mungkin jauh lebih banyak daripada keluarga konvensional pada umumnya,” ucap Macron dalam acara pergerakan ‘En Marche!’ baru-baru ini. ‘En Marche!’ merupakan pergerakan independen yang diluncurkan Macron sekitar 12 bulan lalu. #de

Print Friendly

Comments

comments




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *