Search
Thursday 17 August 2017
  • :
  • :

Warga Nunukan Mengadu ke DPRD Gara-gara Malaysia Tutup Pintu Dagang Tradisional

Pelabuhan Tunon Takan Nunukan.

Pelabuhan Tunon Takan Nunukan.

NUNUKAN, BERITAKALTARA.com –  Puluhan pedagang yang tergabung dalam Himpunan Pedagang Lintas Batas (HPLB) di Kabupaten Nunukan ngeluruk ke kantor DPRD Nunukan, Senin (25/04/2016).

Mereka mengadukan penutupan jalur perdagangan tardisional sepihak oleh Pemerintah Malaysia. Mereka mengaku tidak bisa  masuk ke Pelabuhan Tawau Malaysia untuk mengambil kebutuhan pokok warga seperti biasanya.
Salah satu pedagang lintas batas di Nunukan, Ali, mengatakan, aturan larangan masuknya perahu pedagang lintas batas oleh pemerintah Malaysia diberlakukan tanpa adanya sosialisasi.

“Nggak ada pemberitahuan, mereka langsung tutup saja,” ujarnya, Senin (25/04/2016).

Akibat pelarangan tersebut menurut Ali selain terjadi kelangkaan kebutuhan pokok di wilayah perbatasan, harga kebutuhan pokok yang biasa didatangkan dari Malaysia juga melonjak naik tajam.
Mereka berharap DPRD Nunukan bisa mencarikan solusi terhadap permasalahan tersebut.
“Gula saja biasanya Rp11 ribu, tapi sekarang sampai Rp15 ribu rupiah. Semua kebutuhan yang dari Malaysia dipastikan naik, ” imbuhnya.
Ketua Himpunan Pedagang Lintas Batas Kabupaten Nunukan Andu Mutamir mengatakan, larangan pemerintah Malaysia yang mengharuskan armada yang digunakan oleh pedagang tradisional dari besi juga memberatkan para pedagang. Dia berharap pemerintah Malaysia memberlakukan larangan secara bertahap.

“Kita minta bertahap berapa tahun kemudian harus diberlakukan. Karena ini tidak ada sosialisasi, tiba-tiba diberlakukan,” ujar Andi Mutamir.

Sementara Ketua DPRD Nunukan Danni Iskandar mengaku akan memanggil instansi Disperindakop untuk mencari solusi permasalahan karena larangan tersebut sudah masuk wilayah pemerintah pusat.

“Kita akan minta keterangan kepada instansi terkait langkah penangannya. Kita juga akan sampaikan permasalahan ini kepada gubernur agar menyampaikan kepada pemerintah pusat,” ujar Danni Iskandar.

Sejak 3 minggu terakhir, pemerintah Malaysia menutup jalur perdagangan tradisional sehingga pedagang tradsisional yang biasa menggunakan perahu dari kayu tidak bisa masuk ke Pelabuhan Tawau Malaysia. Belum bisa dipastikan penyebab larangan masuknya perahu-perahu pedagang tardisional oleh pemerintah Malaysia karena belum ada pemberitahuan secara resmi kepada pedagang tardisional.
“Kita tahunya dari  selebaran saja, itu tanpa ada pembicaraan kedua negara dan tanpa sosialisasi,” ujar Andi Mutamir. #dhim
Print Friendly

Comments

comments




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *